Senin, 22 Desember 2014

AYAH

     Ayah, mungkin satu kata dengan empat huruf yang selalu mampu membuatku seketika tegang setiap kudengar teriakan keluar dari bibirnya, namun satu kata empat huruf pula yang selalu mampu membuatku merasa aman tenang bila bersamanya.
     Selalu kuingat, bahkan tak akan pernah ingin ku lupa bagaimana caramu memakiku, caramu mencibirku, caramu menamparku setiap kali ada kesalahan yang kubuat terhadapmu. Ingin rasanya saat itu juga kuambil pisau, lalu kutancapkan kejantungmu atau ku robek mulutmu agar tak kudengar lagi untuk selamanya ocehan, omelan, cibiranmu yang selalu berhasil membuat telingaku panas karenanya. Mungkin, jika saja aku lupa kalau bukan karenamu ku ada di dunia ini, hal-hal gila yang sedang berteriak dalam otakku untuk mengakhiri nyawamu mungkin saja terjadi. Hal yang sebenarnya bisa membuatku menyesal seumur hidup itu.... ya, sangatlah mungkin terjadi.
     Entah mengapa tiba-tiba saja sepintas kenangan manis datang menghampiri pikiranku, sebuah kenangan yang selalu saja berhasil membuatku menitikkan air mata. Sebuah kenangan dimana seorang sosok pria gagah yang tengah menggendongku, tertawa bersamaku bagai hidup di dunia ini tak akan pernah ada susahnya. Pria gagah itu senantiasa ada di sampingku, seakan tak ingin sedetikpun ku luput dari pandangannya, seakan aku akan pergi jauh jika matanya tak melirikku walau hanya sedetik.
     Entah mengapa berada bersamanya selalu membuatku menjadi seorang yang sangat berharga. Selalu kuingat caranya melindungiku dari orang-orang jahil yang selalu menggangguku. Selalu kuingat, cara pria gagah tersebut memaki mereka dan membuatku kagum akan perbuatannya. Namun itu bukan apa-apa sampai dia berkata, "Kamu gak apa-apa kan? Yuk kita makan ice cream", seketika bahagiaku sampai pada puncaknya. 
     Namun kini, entah mengapa sosok pria gagah itu hilang entah kenama dan yang kini ada hanya seorang sosok kakek-kakek tua tukang marah yang selalu saja mengomentari apapun yang kulakukan.
     Kemanakah sosok pria gagah si superheroku? Kemana? Kenapa Kau ambil dia Tuhan?
     
     Seketika aku sadar, bahwa kakek tua tukang marah inilah yang dulu menjadi superheroku. Kesal. Namun disatu sisi pedih. Sakit. Melihat sang superheroku kini melemah, bahkan seperti tidak ada tenaga lagi. Kini senjatanya bukan lagi otot-ototnya yang kekar, bukan lagi pukulannya yang mampu merobohkan siapa saja yang berani padanya. Senjatanya kini hanyalah omelan dan air mata. Ya, air mata!!! Setetes air yang dulu tak pernah kulihat mengalir dari matanya, kini selalu mengalir tiap kali kubentak dirinya, tiap kali kujawab setiap omelannya, tiap kali kubantah tuduhannya terhadapku yang sebenarnya selalu benar, dan tiap kali tak kuhiraukan nasihatnya.
     Apa ini salahnya? Atau apa ini salahku?
     Sebenarnya sakit dan pilu dalam hati tiap kali kuliat matanya basah akibat menangisi kebebalanku. Ya Tuhan kenapa Kau sandingkan aku yang tidak layak ini untuk hidup bersama dengan sesosok pria yang begini hebatnya. Sesosok pria yang rela basah kuyup hanya untuk mencarikanku sesuap nasi. Sesosok pria yang pasti rela memakan sebuah batu asalkan aku bisa sekolah dan menjadi seorang yang lebih baik dari dirinya. 
      Kenapa Tuhan, Kau biarkan dia merelakan segalanya hanya demi aku yang tidak layak adanya?  Kenapa Tuhan, Kau biarkan dia menghabiskan hidupnya hanya untuk menghidupiku?
     Kini yang tersisah hanyalah rasa syukur karena t'lah Kau pilihkan dirinya untuk menjadi pelindungku, superheroku. Dan ku tahu pasti inilah saat yang telah Engkau tetapkan untukku membalaskan semua jasanya kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar