Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang masing-masing pulaunya memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, dan salah satunya yang paling terkenal adalah Papua. Papua sendiri memiliki banyak sekali SDA berupa tambang emas, perak, minyak bumi, dan tembaga yang sangat banyak. Namun sayang baik Papua maupun Indonesia sendiri belum mampu untuk mengolah SDA tersebut secara mandiri.
Alhasil kebanyakan SDA tersebut dikelola oleh pihak luar. Dan salah satu pengelola SDA Indonesia yang paling terkenal adalah PT. Freeport. Perusahaan tabang ini sendiri merupakan perusahan tambang yang mampu mengelolah SDA di Papua dengan sangat baik. Namun sayang, bukannya menguntungkan bagi Papua dan Indonesia, PT . Freeport malah cendereung merugikan dan membuat banyak masalah.
Tidak sedikit kerugian yang ditimbulkan oleh PT. Freeport sendiri. Sebagai contoh, kegiatan pertambangan Freeport sendiri telah menghasilkan keuntungan yang luar biasa besar, namun pada kenyataannya rakyat Papua masih belum bisa sejahtera, bahkan tidak sedikit yang masih mengalami kelaparan.
Tidak hanya itu, pertambangan Freeport juga sudah mulai merusak alam Papua sedikit demi sedikit. Dimulai dari pertambangan Ertsberg yang dimulai pada Maret 1973 dan berakhir pada tahun 1980-an. Kegiatan pertambangan ini sendiri menyisakan lubang sedalam 360 meter yang berhasil membuat bumi Papua menjadi terlihat cacat. Tidak berakhir disitu, pada tahun 1988, Freeport mulai menambang Grasberg yang merupakan cadagan raksasa lainnya. Dan dari pertambangan tersebut Freeport mendapat keuntungan sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Namun pertambangan ini kembali menimbulkan kerugian karena sampai bulan Juli 2005, lubang yang dihasilkan mencapai 2,4 kilometer yang meliputi luas 499 ha dengan kedalaman 800 meter yang sama dengan ketinggian gedung tertinggi di duniua Burj Dubai.
Masalah yang timbul akibat kegiatan pertambangan Freeport terus berlangsung hingga sangan lama, sehingga lama kelamaan muncul masalah-masalah baru. Salah satunya, dari hasil luar biasa banyak yang didapat oleh Freeport hanya sedikit yang masuk APBN, sehingga mengakibatkan Indonesia menjadi merugi besar. Padahal perjanjian antara Feeport dan Indonesia sendiri sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa dibatalkan atau diurungkan lagi. Dan lagi-lagi Indonesia kembali dibodohi oleh pengelola asing.
Namun jika dicermati kembali, semua kerugian yang dialami Indonesia bukanlah seutuhnya disebabkan oleh PT. Freeport maupun penglola asing lainya. Ketidakpedulian dan rasa tidak mau tahu rakyar Indonesia terhadap pendertaan yang dialami saudara setanah airnya di Papua, serta kurangnya peran pemerintah dan BUMN juga sangatlah berpengaruh akan apa yang terjadi di bumi Papua. Kurangnya kesadaran rakyat Indonesia untuk menghargai dan mau belajar untuk mengolah SDAnya sendiri masihlah sangat rendah, sehingga piha luar dapat dengan mudah mengambil alih dan menglah SDA tersebut. Ditambah lagi kurangnya pengawasan dan sikap gegabah pemerintah dalam menyetujui pengolahan SDA Indonesia oleh pihak asing mengakibatkan pihak asing dapat semena-mena dalam pemanfaatan SDA di Indonesia.
Senin, 16 Februari 2015
PT. Freeport Rugikan Indonesia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar